Tentang #savejkt

Jakarta tidak hanya pusat pemerintahan republik ini tetapi juga pusat segala masalah yang ada di negeri ini. Sebagai sebuah kota besar berpenduduk mendekati angka 10 juta jiwa, permasalahan Jakarta sangat kompleks. Fatalnya, kompleksitas masalah yang ada di Ibu Kota tidak direspon secara efektif dan profesional oleh pihak pengelola Jakarta. Di mana-mana kita bisa lihat ketidakmampuan pemerintah DKI saat ini dalam mencari solusi yang sistematis dan terintegrasi.

Secara ekonomi dan budaya, Jakarta sedang mengalami pertumbuhan yang pesat akibat arus globalisasi yang membawa dampak yang begitu besar pada kehidupan Ibu Kota. Pada saat yang bersamaan, seluruh proses pertumbuhan tersebut diiringi dengan meningkatnya resiko sosial dan ekologis yang perlahan tapi pasti telah menunjukkan tanda-tanda yang semakin meningkat dari waktu ke waktu seperti banjir dan ambruknya permukaan. Dengan kata lain, Jakarta sedang berada dalam situasi krisis yang jika tidak dimitigasi dari sekarang, pelan tapi pasti akan membawa bencana yang tidak terbayangkan.

Atas keprihatinan itulah para twitizen (warga kota pengguna account twitter) mencoba melakukan perubahan di Jakarta melalui peran aktif dalam suatu gerakan yang kami sebut sebagai Gerakan #savejkt. Mengapa? Karena Jakarta harus diselamatkan dari bencana yang diakibatkan keteledoran pengelola serta ketidakpedulian warganya.

Gerakan #savejkt adalah gerakan sosial yang sebagian besar aktivitasnya diorganisir melalui twitter. Gerakan #savejkt memiliki dua pilar. Pertama, #savejkt adalah gerakan berbasis gagasan. Target yang ingin dicapai adalah mengembangkan suatu konsep “Jakarta Yang Lebih Baik”. Konsep ini dibangun melalui imajinasi kolektif warga Jakarta tentang bagaimana seharusnya Jakarta dikelola dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan warganya dan memenuhi azas lingkungan. Setiap twitizen dapat menyumbangkan gagasan masing-masing melalui media twitter dengan hastag #savejkt. Seluruh gagasan ini akan dimonitor oleh suatu tim yang bertanggung mengelola gagasan-gagasan yang masuk untuk dijadikan platform pengelolaan Jakarta di masa pemerintahan berikutnya.

Pilar kedua dari gerakan #savejkt adalah demokrasi. Sebagai sebuah gerakan sosial yang menuntut sebuah perubahan, kami sadar bahwa perbaikan kota Jakarta tidak akan terjadi tanpa perubahan politik. Seperti kita ketahui, salah satu sumber masalah dalam pengelolaan Jakarta adalah figur pemimpinnya yang tidak mampu memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menangani masalah-masalah yang begitu mendesak untuk diselesaikan. Karena itu, untuk memastikan seluruh konsep “Jakarta Yang Lebih Baik” dapat terealisasi, gerakan #savejkt akan memanfaatkan momentum pemilihan gubernur DKI pada tahun 2012 untuk mengajukan calon kandidat gubernur lewat jalur independen. Melalui jalur independen, kandidat gubernur bisa menghindari perangkap oligarki partai yang cenderung melawan kepentingan publik. Kriteria utama dari calon kandidat gubernur ini adalah sosok yang memiliki visi jelas, kompetensi dalam mengelola dan memimpin, komitmen kepada warga Jakarta, dan bebas dari kepentingan politik maupun bisnis manapun. Calon ini terlebih dahulu diseleksi dan diuji oleh para twitizen melalui mekanisme cyberdemocracy dengan fasilitas twitter.

Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, gerakan #savejkt akan dilakukan melalui 4 tahap dengan alokasi waktu sebagai berikut:

Tahap Pertama: Sosialisasi (Oktober 2010 – January 2011)

Para twitizen dipersilahkan memberi opini, komentar, serta kritik tentang Jakarta lewat hastag #savejkt. Twitizen juga dipersilahkan menulis harapan serta imajinasi mereka tentang kota Jakarta yang ideal. Twit-twit ini akan terus dimonitor dan dijadikan masukan dalam mengelola isyu tentang Jakarta. Tim Konsep yang terdiri dari pakar interdisiplin yang relevan dengan penataan kota akan menyusun sebuah program berdasarkan masukan-masukan dari twitizen yang hasil akhirnya berupa sebuah platform pengelolaan Jakarta berbasis partisipatif dengan tema “Jakarta Yang Lebih Baik”

Tahap Kedua: Nominasi (February – May 2011)

Pada tahap ini, twitizen dipersilahkan mengajukan nama-nama yang dianggap mampu memimpin Jakarta dengan lebih baik. Kriteria calon tersebut akan didiskusikan bersama-sama melalui masukan dari para twitizen. Setiap usulan nama akan dicatat dan akan dievaluasi secara seksama oleh Tim Strategi yang terdiri dari pengamat politik dan ahli sosial media. Nama yang diusulkan harus memberikan pernyataan kesediaan untuk dicalonkan sebelum diseleksi. Self-nomination tidak diharamkan. Tim Strategi akan menyeleksi tiga kandidat yang akan maju ke dalam pemilihan langsung oleh twitizen. Tiga kandidat ini dipersilakan untuk melakukan kampanye di media twitter dan online lainnya hingga menuju tahap berikutnya, yakni konvensi.

Tahap Ketiga: Konvensi (Juni 2011)

Ini adalah tahap pemilihan calon kandidat yang dilakukan secara offline di sebuah tempat di Jakarta. Konvensi ini diselenggarakan pertengahan Juni 2011. Dalam konvensi ini, para twitizen akan hadir untuk memberi suara mereka secara langsung. Konvensi ini juga bisa menjadi ajang kopi darat bagi seluruh warga twitpolis yang peduli dengan Jakarta. Hasil dari konvensi ini adalah tercapainya suatu kesepakatan untuk mendukung satu calon yang akan diajukan sebagai kandidat gubernur DKI pada tahun 2012 melalui jalur independen.

Tahap Keempat: Mobilisasi (Juli 2011-Juni 2012)

Ini tahap yang paling krusial yang melibatkan seluruh twitizen untuk menggalang dukungan bagi calon yang diusulkan oleh para twitizen. Disinilah online politics bertemu dengan offline politics. Targetnya adalah memenangkan calon independen yang diajukan oleh komunitas twitizen dalam pemilihan gubernur DKI.

Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi ini momentum untuk menyelamatkan Jakarta dari bencana sekaligus membuktikan apakah komunitas media sosial bisa menjadi sebuah kekuatan politik yang nyata atau tidak. Selama ini para twitizen hanya bisa mengumpat dan mencerca di twitter ketika berhadapan dengan realitas offline di luar sana. Sudah saatnya untuk bertindak dan melakukan perubahan melalui mekanisme politik demokrasi yang kita miliki. Ayo #savejkt!


About the Author